SELAMAT ULANG TAHUN KEMERDEKAAN RI YANG KE 76 TAHUN

el

Model Pembelajaran Jigsaw
Oleh : Administrator - Jumat, 09 April 2010
Dalam era globalisasi, teknologi telah menyentuh segala aspek pendidikan sehingga, informasi lebih mudah diperoleh. Dengan demikian siswa dituntut aktif berpartisipasi dengan diiringi kemajuan teknologi sehingga melibatkan intelektual dan emosional siswa didalam proses belajar. Keaktifan disini berarti keaktifan mental walaupun kegiatan ini keterlibatan langsung keaktifan fisik dan tidaknya berfokus pada satu sumber informasi yaitu guru, yang hanya mengandalkan satu sumber komunikasi. Seringnya rasa malu dan kurangnya percaya diri siswa yang muncul untuk melakukan komunikasi dengan guru, membuat kondisi kelas yang tidak aktif sehingga berpengaruh pada rendahnya prestasi belajar siswa. Maka perlu adanya usaha untuk menimbulkan keaktifan dengan mengadakan komunikasi yaitu guru dengan siswa dan siswa dengan rekannya. Salah satu pembelajaran tersebut adalah kooperatif tipe jigsaw. Melihat dari kurang aktifnya siswa bertanya kepada Guru karena rasa malu dan kurang percaya diri Sehingga salah satu Guru, sebut saja Bapak Mujiyono Guru Mapel Matematika), mencoba menerapkan kepada anak didiknya mengadakan komunikasi dengan model pembelajaran jigsaw. Pembelajaran Jigsaw adalah tipe pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Elliot Aronson’s dkk di Universitas Texas. Model pembelajaran ini didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut kepada kelompoknya. Sesuai dengan namanya, teknis penerapan tipe pembelajaran ini maju mundur seperti gergaji. Menurut Arends (1997), langkah-langkah penerapan model pembelajaran Jigsaw dalam matematika, yaitu: 1. Membentuk kelompok heterogen yang beranggotakan 4 – 6 orang 2. Masing-masing kelompok mengirimkan satu orang wakil mereka untuk membahas topik, wakil ini disebut dengan kelompok ahli 3. Kelompok ahli berdiskusi untuk membahas topik yang diberikan dan saling membantu untuk menguasai topik tersebut 4. Setelah memahami materi, kelompok ahli menyebar dan kembali ke kelompok masing-masing, kemudian menjelaskan materi kepada rekan kelompoknya 5. Guru memberikan tes individual pada akhir pembelajaran tentang materi yang telah didiskusikan Kunci pembelajaran ini adalah kepercayaan diri setiap siswa terhadap anggota kelompok untuk memberikan informasi yang diperlukan dengan tujuan agar dapat mengerjakan tes maupun ulangan dengan baik. Disamping melatih siswa baik mental dan fisik, metode pembelajaran ini juga mempunyai beberapa kelebihan, bila dibandingkan dengan metode pembelajaran tradisional yaitu: 1. Mempermudah pekerjaan guru dalam mengajar,karena sudah ada kelompok ahli yang bertugas menjelaskan materi kepada rekan-rekannya 2. Pemerataan penguasaan materi dapat dicapai dalam waktu yang lebih singkat 3. Metode pembelajaran ini dapat melatih siswa untuk lebih aktif dalam berbicara dan berpendapat. Dengan kelebihan yang dimiliki dari pembelajaran ini pastinya tidak lepas dengan beberapa permasalahan yang sering dijumpai siswa pada saat menjalankannya yaitu 1. Siswa yang aktif akan lebih mendominasi diskusi, dan cenderung mengontrol jalannya diskusi. Untuk mengantisipasi masalah ini guru harus benar-benar memperhatikan jalannya diskusi. Guru harus menekankan agar para anggota kelompok menyimak terlebih dahulu penjelasan dari tenaga ahli. Kemudian baru mengajukan pertanyaan apabila tidak mengerti. 2. Siswa yang memiliki kemampuan membaca dan berpikir rendah akan mengalami kesulitan untuk menjelaskan materi apabila ditunjuk sebagai tenaga ahli. Untuk mengantisipasi hal ini guru harus memilih tenaga ahli secara tepat, kemudian memonitor kinerja mereka dalam menjelaskan materi, agar materi dapat tersampaikan secara akurat. 3. Siswa yang cerdas cenderung merasa bosan. Untuk mengantisipasi hal ini guru harus pandai menciptakan suasana kelas yang menggairahkan agar siswa yang cerdas tertantang untuk mengikuti jalannya diskusi. 4. Siswa yang tidak terbiasa berkompetisi akan kesulitan untuk mengikuti proses pembelajaran. Dengan metode ini diharapkan para siswa, lebih percaya diri serta aktif dalam meningkatkan prestasi. Serta dapat membawa sekolah kita unggul dalam bersaing dengan sekolah lain. Maju terus dan semangat menimba ilmu untuk menggapai cita-cita…

Cetak | Kembali

Copyright © 2010 - 2016 by SMP Negeri 1 Karanganyar | Supported by AMIK PGRI KEBUMEN
E-mail : smp@smpn1karanganyar.sch.id
Jl. Kartini 25 Telp. (0287) 551058
Fax. (0287) 551846